A discussion on optimal performance

Apa itu organizational optimal performance?  Pertanyaan itu menjadi obsesi bagi HPF.  Mencapai kinerja optimal organisasi, hanya mungkin kita dilakukan bila kita berhasil mendefinisikan dengan baik bagaimana ciri dari organisasi dengan kinerja optimal, sehingga dengan itu kita bisa menggambarkan proses untuk mencapainya.

HPF menyebut kinerja optimal sebagai extraordinary performance (eop).  Pencapaian eop memungkinkan sebuah organisasi berada pada level world class organization (wco).  Jelas pencapaian wco tidak harus dalam konteks bahwa sebuah organisasi bisa bersaing dengan organisasi sejenis di negara lain.  Kenapa?  Karena kondisi ekonomi yang berbeda dari satu negara ke negara lain akan menyebabkan organisasi tersebut tidak berada dalam satu level playing field dengan organisasi tersebut.  Karen itu HPF mendefinisikan sebuah organisasi telah mencapai eop ataupun telah menjadi wco bila ia telah berhasil mencapai kinerja optimal di dalam industrinya untuk kriteria yang penting bagi organisasi tersebut.

Size tidak selalu menjadi kriteria utama karena bisa jadi sebuah organisasi tidak memilih untuk menjadi besar karena perbedaan karakter industri yang ada.  Namun ketika organisasi memilih investor sebagai stake holder utamanya, maka ia bisa mencapai ROI terbaik di dalam industrinya.  Atau ketika ia memilih customer, bisa berarti satisfaction level.  Sementara itu, ketika ia memilih employee berarti tingkat kepuasan employee, dan seterusnya.

Dengan pemahaman tersebut, maka HPF index akan mengukur kinerja pada area yang dinggap penting tersebut dan membandingkan dengan perusahaan terbaik di industri tersebut di dunia untuk melihat potensi yang bisa dicapai dalam satu industri.

Kami meyakini bahwa optimal performance hanya bisa dicapai bila terdapat optimal performance pada setiap individu di dalam organisasi.  Sulit bagi organisasi untuk mencapai itu bila karyawannya merasa diperalat.  Di sisi lain, sulit juga bagi organisasi mencapai itu bila karyawannya memperalat organisasi.  Karyawan hanya bisa loyal dan, bahkan, berkorban buat organisasi bila ia merasakan organisasinya concern terhadap kepentingan dia lebih dari sekedar untuk kepentingan organisasi.  Dengan asumsi dasar tersebut lah, eop bisa dicapai.